Selasa, 09 Juli 2019

thumbnail

Siap-siap, ARTJOG 2019 Sebentar Lagi Dimulai


Perhelatan pameran seni rupa kontemporer ARTJOG 2019 bakal segera digelar. Perhelatan tersebut direncanakan akan menyapa pencinta seni pada 25 Juli-25 Agustus 2019. Lokasinya masih di Jogja National Museum (JNM) DI Yogyakarta.

Staf Khusus Menpar bidang Media dan Komunikasi Don Kardono mengatakan, ARTJOG 2019 akan memperlihatkan berbagai karya seniman dalam dan luar negeri.

"Karya-karya seni yang luar biasa akan ditampilkan. Baik dari dalam maupun luar negeri. Begitu juga berbagai program lainnya yang bakal membuat ARTJOG makin meriah," papar Don Kardono.

Direktur ARTJOG, Heri Pemad mengatakan sepanjang perjalanannya, ARTJOG selalu berupaya menciptakan ruang pertemuan seluas-luasnya bagi publik. Terutama melalui aktivitas kesenian. Tahun ini pun demikian. Mengusung tema Arts in Common, ARTJOG 2019 lebih menegaskan citra dari kegiatan tersebut.

"Tahun ini, kami ingin menegaskan ARTJOG tidak lagi bicara soal art fair. Karena selama ini ARTJOG selalu dikemas meriah dan cenderung festiv. Sehingga ARTJOG itu lebih pas bila disebut sebagai suatu festival," ujar Heri Pemad dalam konferensi pers yang digelar di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.

Untuk memperkuat visi jangka panjangnya sebagai perhelatan reguler, ARTJOG telah memproyeksikan sebuah tema besar. Sebuah tema yang memayungi penyelenggaraan edisi-edisi selanjutnya. Sepanjang 2019-2021, ARTJOG akan dibingkai oleh tema besar Arts in Common, yang diturunkan ke dalam tiga sub-tema kuratorial dalam tiga edisi festival setiap tahunnya.

"Pameran ARTJOG MMXIX mengusung tajuk kuratorial common|space, melalui karya-karya yang mempersoalkan 'ruang bersama' di mana kita hidup hari-hari ini. Diikuti hampir 40 seniman individu maupun kelompok dari Indonesia dan mancanegara seperti Austria, Australia, Filipina dan Singapura," jelasnya.

Sementara itu, Kurator ARTJOG 2019, Agung Hujatnika menambahkan selama ini art fair cenderung menitik beratkan pada aspek pasar dan komersial. Dalam suatu art fair yang ditampilkan lebih banyak galeri seni. Dirinya menyadari sedari awal, ARTJOG memiliki karakter festival yang lebih kuat dan tidak ada keterlibatan galeri secara formal.

"Ini sebuah perhelatan, jadi sudah waktunya menegaskan ARTJOG sebagai festival bukan art fair," jelas Agung.

Lebih lanjut Agung menerangkan, ARTJOG 2019 akan diikuti oleh 40 seniman dalam dan luar negeri. Karya yang ditampilakan pun tak sembarangan. Semuanya melalui kurasi yang ketat. Dari mulai open call applications, hingga undangan khusus.

"ARTJOG 2019 tetap mempertahankan beberapa program edukasi pamerannya, seperti Meet the Artist dan Curatorial Tour. Sementara LeksiKon merupakan program baru yang menyajikan wicara-seniman (artist talk) secara performatif," ujar Agung.

Dengan eksistensi dan keberagamannya tak pelak, ARTJOG pun kembali masuk dalam 100 Calendar of Event (CoE) Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Menurut Staf Khusus Menpar Bidang Media dan Komunikasi Don Kardono, ARTJOG sudah menjadi layaknya city branding bagi Yogyakarta. Keberadaannya selalu dinanti pencinta seni Indonesia bahkan dunia.

"ARTJOG semakin mempertegas citra Jogja sebagai kota seni. Kota atraktif dengan seniman-seniman yang kreatif. Inilah mengapa ARTJOG selalu masuk dalam 100 CoE Kemenpar," papar Don yang juga Ketua Tim Kurator CoE Kempar itu.

Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Management Calender of Event (CoE) Esthy Reko Astuty ikut memuji konsistensi ARTJOG sebagai salah satu atraksi wisata andalan.

"Terbukti ArtJog telah menjadi pelaksanaan yang ke 12 kalinya dan rutin setiap tahun digelar. Selain itu selalu mampu menyedot wisatawan serta pencinta seni untuk datang menikmatinya. Ini sebuah konsistensi yang luar biasa," kata Esthy.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional II Kementerian Pariwisata Adella Raung pun mengamini hal tersebut. Dirinya mengakui jika reputasi ARTJOG telah mendunia. Apalagi ARTJOG selalu tampil berbeda disetiap pelaksanaannya. Selalu ada seni rupa kontemporer terbaru yang disajikan. Hal ini menjadikannya sebuah pagelaran akbar maha karya seni rupa.

"Sejak pertama kali diadakan, kemudian sebagai Jogja Art Fair (JAF) pada tahun 2008 sebagai bagian dari Festival Seni Yogyakarta, acara ini telah mendapatkan reputasi yang kuat di antara kolektor seni dan dealer tidak hanya di tingkat domestik, tetapi juga secara global. Acara ini telah mendatangkan ribuan pecinta seni ke Jogyakarta," ujar Adella yang didampingin Kepala Bidang Pemasaran Area I Jawa Wawan Gunawan.

Bagi Menteri Pariwisata Arief Yahya ArtJog bukanlah hanya sebuah pagelaran seni semata. Kehadirannya bagai sebuah pekan raya bagi para pencinta seni. ArtJog pun semakin memantapkan Jogja sebagai kota seni Indonesia.

"Setiap kali digelar ArtJog selalu ramai disesaki para pencinta seni, baik dari dalam maupun luar negeri. Selalu terjadi antrean panjang pengunjung yang ingin memasuki ruang pameran. Semua ingin menikmati ratusan karya seni, termasuk lukisan, gambar, patung, instalasi, foto, video, puisi, pertunjukan teater dan diskusi publik. Inilah keistimewaan ArtJog. Pokoknya jangan mengaku pencinta seni kalau tidak menghadiri ArtJog," papar Menteri asal Banyuwangi itu.

Selasa, 02 Juli 2019

thumbnail

Aroma Pariwisata Tercium Harum di Pacific Exposition 2019


Aroma pariwisata tercium harum pada opening Pasific Exposition 2019 di Sky City Convention Center, Auckland. Sebanyak 20 negara mempertontonkan semua potensi wisatanya di New Zealand Foyer room 2 dan 3. Dua pertiganya, didominasi Indonesia.

Exotic NTT, Papua Barat dengan Raja Ampatnya, Maluku, Kopi Indonesia, Garuda Indonesia, semua terlihat anggun dengan desain khas Indonesia.

Itu belum termasuk booth Wonderful Indonesia. Booth ini mempromosikan semua warna Wonderful Indonesia. Ada kopi khas Papua, Flores dan Toraja. Ada juga travel dari Cilu Bintang Estate, Air New Zealand, CV R Production, Gapi Di e, dan House of Travel.

Tampilannya? Indonesia banget. Desainnya Phinisi, kapal layar asal Bugis, Sulawesi Selatan.

Replika yang ditampilkan tak utuh. Yang terlihat hanya ujung perahu dan sejumlah tiang. Ukurannya juga hanya 6 x 5 meter. Tak sebesar tampilan saat "berlayar" di PATA Travel Mart atau ITB Berlin. Tapi, tampilan uniknya sudah cukup membuat orang berhenti sejenak di booth Wonderful Indonesia.

Bentuknya yang khas, runcing di depan, tumpul di belakang, dengan beberapa tiang, tinggi menjulang, tangga untuk membentangkan layar, tali temali yang rapi, dianggap cukup pantas untuk memenuhi storage gadget masing-masing.

Dari sejarahnya, kapal tradisional dari Bugis, Makassar, Sulawesi Selatan itu memang sangat dihormati. Sangat disegani dunia. Hanya bermodalkan kapal kayu, layar dan tali temali, Phinisi sudah melanglang buana kemana-mana.

"Phinisi itu sudah mendunia. Sudah menjelajah kemana-mana. Dari Asia, Afrika, Australia, Amerika, Eropa pernah dijelajahi pelaut kita dengan Phinisi. Dan, kapal model ini khas Indonesia, bisa mewakili identitas Indonesia. Karena itu kami konsisten menggunakan desain ini di semua travel market besar dunia," jelas Arief Yahya, Menpar RI di Auckland, Jumat (12/7).

Identitas sebagai negara maritim juga terwakili oleh Phinisi. Tak ada yang bisa membantah bawah Indonesia adalah negara kepulauan yang terbesar di dunia. Basic-nya bahari. Dari Sabang sampai Merauke, Miangas hingga Pulau Rote, dua pertiganya adalah lautan. Realitas ini juga paralel dengan lima prioritas Presiden Joko Widodo yang mengangkat maritim sebagai salah satu prioritas pembangunan.

"Selain infrastruktur, pangan, energi, pariwisata, adalah maritim," jelas Menteri yang asli Banyuwangi itu.

Dan di pariwisata, pesan Presiden Joko Widodo itu sudah diterjemahkan ke dalam 10 destinasi prioritas. Dari 10 destinasi yang sudah ditetapkan pemerintah, tujuh di antaranya beraroma bahari.

Ada Tanjung Kelayang Belitung, Tanjung Lesung Banten, Kepulauan Seribu Jakarta, Mandalika Lombok NTB, Labuan Bajo NTT, Wakatobi Sultra, dan Morotai Maltara. Belum lagi potensi wisata bahari yang tidak ada dalam daftar percepatan 10 itu. Tengok saja Raja Ampat Papua Barat, Bunaken-Lembeh Sulut, Derawan Kaltim-Kaltara, Anambas, Natuna, Banda-Ambon, dan lainnya.

"Itu semakin menguatkan mengapa Phinisi selalu menjadi icon dalam travel market, termasuk Pacific Exposition 2019. Di sini (Selandia Baru, Red), kita ingin menunjukkan potensi bahari kita yang luar biasa," jelas dia.

Bila ditarik ke sejarah dunia juga masih sangat connect. Sejak dulu, sejarah bangsa-bangsa besar dunia identik dengan aroma maritim. Selalu terkait dengan bahari.

Tengok saja Inggris, Spanyol, Portugis, Prancis dan Belanda. Semua terlihat hebat karena punya maritim yang kuat. Indonesia juga sama. Ada Sriwijaya dan Majapahit yang sangat disegani lantaran punya armada maritim yang kuat.

"Menghadirkan kembali Wonderful Indonesia dalam kekuatan keindahan bahari di Pacific Exposition tu sangat strategis. Ada filosofinya, ada sejarahnya, ada estetikanya. Yang lebih penting, ada spirit membangun bahari melalui pintu pariwisata," ungkap Arief Yahya yang Mantan Dirut PT Telkom ini.

Selama di Pacific Exposition, Menpar Arief Yahya didampingi Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Samoa dan Tonga, Tantowi Yahya, Deputi Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani, Asdep Pemasaran I Regional IV Edi Wardoyo Stafsus Menpar Bidang Komunikasi Don Kardono, Ketua Tim Percepatan Millenial Gabriella Patricia dan Ketua Tim Percepatan Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Valerina Daniel. 

Selasa, 25 Juni 2019

thumbnail

New Zealand Tambang Baru Wisman Berkualitas ke Indonesia


Empat hari berada di Auckland betul-betul dioptimalkan Menpar Arief Yahya. Dia melihat, mengamati, merasakan, apa yang sebenarnya ada dalam benak customers nya, pasar New Zealand. Apa yang mereka inginkan, apa yang dibutuhkan agar mereka comfortable dan lebih lama tinggal di destinasi wisata di tanah air.

Di sela sela event Pacific Exposition 2019 yang diundang Duta Besar Tantowi Yahya, di Skycity Convention Center Auckland, dia melakukan benchmark ke beberapa titik. Hipotesisnya: New Zealand adalah pasar potensial, bahkan bisa menjadi tambang buat wisatawan berkualitas di tanah air.

"Saya sudah melihat angka-angkanya, New Zealand naik bagus sekali. Tahun 2017 pertama kali tembus di atas 100 ribu. Persisnya saya bulatkan 107 ribu wisman, atau persianya 106.9 ribu wisman. Trend nya naik terus, karena itu saya datang ke Auckland," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, di Crowne Hotel Auckland.

Tahun 2018, New Zealand naik lagi menjadi 128 ribu, atau 20% dari tahun sebelumnya yang sudah 107 ribu. Ini pertumbuhan yang cukup bagus, karena ada direct flight dari Denpasar-Auckland, oleh Emirates.

"Lagi-lagi, kuncinya adalah direct flights, atau akses langsung," ungkap Menpar Arief Yahya yang jagoan marketing itu.

Jebolan ITB Bandung, Surrey University dan Doktor Strategic Management Unpad itu semakin yakin, karena Januari sampai Mei 2019 ini sudah 42.7 ribu wisman New Zealand. Mengalami kenaikan 13.26% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

"Tahun ini target kita 145 ribu, untuk pasar New Zealand," ungkap Arief Yahya optimistik.

Apa yang didapat dari site visit Menpar Arief Yahya selama beberapa hari di Auckland? Pertama, orang New Zealand lebih suka adventure, outdoor, alam, dan sebagian besar destinasi yang dibangun di sana berbasis pada alam. Karena itu tahline national brand nya New Zealand adalah Pure 100%.

"Ini semakin mengkonfirmasi bahwa digital campaigne kita yang menonjolkan alam untuk target market New Zealand sudah tepat. Tentu, tidak mungkin 100% alam, harus ada sentuhan budaya dan hospitality yang menjadi kekuatan Indonesia," ungkap mantan Dirut PT Telkom ini.

Karena itu, Menpar Arief Yahya meyakini makin bagus dan lengkap infrastruktur yang dibangun untuk mendukung akses ke pariwisata, akan semakin kuat pula daya saing pariwisata Indonesia. Apa yang diprogramkan Presiden Jokowi untuk membangun infrastruktur, yang paling diuntungkan adalah sektor pariwisata.

Infrastruktur sendiri ada fisik, seperti jalan, jembatan, bandara, terminal, pelabuhan, marina dan semua kemudahan yang kelihatan. Ada juga infrastruktur yang tidak kelihatan, seperti telekomunikasi, jaringan atau network, yang membuat mudah digital technologi dioptimalkan.

Kedua, soal budaya atau kebiasaan orang New Zealand, menurutnya juga sangat toleran dan multikultural. Seperti Suku Maori yang hidup berdampingan dan saling menghormati di sana. Bahkan di banyak acara, tradisi doa mereka sering digunakan, di setiap art performing, lagu, tarian, dan budaya mereka juga diangkat.

"Dalam hal budaya, New Zealand sangat toleran. Bisnis mereka lebih banyak di farming atau peternakan biri biri dan sapi, juga pertanian. Ekosistem industrinya sudah menemukan nilai keekonomian," katanya.

Arief Yahya juga mengamati bahwa Auckland, kota terbesar di New Zealand, itu tidak banyak mall. Tidak seperti kota kota besar di Indonesia.

"Rupanya mereka tidak terlalu suka ngumpul di mall atau pusat perbelanjaan. Kultur mereka lebih asyik makan bersama, di cafe, bercerita, fashion nya juga cukup sederhana, tidak brand minded," jelasnya.

Ketiga, wisman New Zealand rata rata spending-nya USD 1500, cukup berkualitas.

"Maka, kita akan semakin serius menggarap New Zealand sebagai originasi yang potensial untuk menaikkan ASPA, average spending per arrival ke Indonesia," kata Arief Yahya.

Selasa, 18 Juni 2019

thumbnail

Di Indonesia Hanya Terdapat 13,2 Persen Lansia yang Tergolong Sehat dan Bugar


Hanya terdapat 13,2 persen orang lanjut usia (lansia) di Indonesia yang tergolong sehat dan bugar. Data tersebut diketahui berdasarkan kategori Spektrum Kerentanan (Frail) di Indonesia 2013.

Laporan berjudul Indonesia Frailty, Aging and Quality of Life (INA-Fragile) memaparkan kategori kerentanan lansia. Dokter spesialis penuaan (geriatri) Siti Setiati menjelaskan lebih rinci.

"Yang benar-benar (lansia) sehat itu hanya 13,2 persen. Mereka masih aktif beraktivitas fisik," kata Siti.

Sementara itu, lansia yang memiliki penyakit, tapi masih bisa menjalani aktivitas atau istilahnya pre-frail sebanyak 61,6 persen. Mereka masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa.

Temuan juga memaparkan, sekitar 25 persen lansia masuk kategori frail atau kondisinya sakit dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Mereka hanya bisa berbaring atau di rumah saja. Perawatan dengan pengasuh pun dibutuhkan.

Risiko kerentanan memengaruhi kualitas hidup. Siti menjelaskan, beberapa risiko kerentanan yang terpapar dalam jurnal berjudul Frailty and the Prediction of Negative Health Outcomes: A Meta-Analysis yang dipublikasikan pada jurnal JAMDA.

1. Sebanyak 1,8 hingga 2,3 kali lipat lansia memiliki risiko kematian.

2. 1,6 hingga 2 kali lipat lansia berisiko kehilangan aktivitas sehari-hari.

3. 1,2 hingga 1,8 kali lipat lansia berisiko memerlukan pengobatan maksimal di rumah sakit.

4. 1,5 hingga 2.6 kali lipat lansia punya keterbatasan fisik.

5. 1,2 hingga 2,8 kali lipat berisiko jatuh dan patah tulang.

"Agar tetap sehat, lansia bisa menjalankan pola hidup sehat, yakni konsumsi makanan yang sehat, berhenti merokok, rutin bergerak aktif, serta membuat otak tetap aktif bekerja," tandasnya.

Kamis, 13 Juni 2019

thumbnail

Pengembangan Pariwisata Tidak Lepas dari Peran Guru


Tak bisa dipungkiri peran guru sangat penting bagi kehidupan masa depan bangsa. Semua bidang tentu membutuhkan guru sebagai dasar pengembangan, termasuk pariwisata. Berangkat dari sinilah Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar Pelatihan Dasar SDM Kepariwisataan Bagi Guru di Surabaya.

Menurut Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Timur Ramlianto, guru memiliki posisi strategis bagi pengembangan brand image kepariwisataan. Guru berperan menciptakan brand image.

"Pesan yang disampaikan guru terhadap obyek wisata yang dikunjungi, dibacanya, akan membangun brand image bagi siswanya," kata Ramli.

Dalam meteri yang yang disampaikan Ramlianto, "Peran Guru Dalam Pengembangan Pariwisata Indonesia", ada strategi yang bisa dilakukan untuk pengembangan pariwisata oleh guru, antara lain riset, literasi, publikasi, sosialisasi, dan komunitas.

"Riset, guru bisa melakukan riset kecil-kecilan di daerahnya, bertanya ke siswa, teman, kolega soal ketertarikan mereka pada pariwisata yang seperti apa, dengan demikian bisa dikembangkan pariwisata ke arah mana," kata Ramlianto.

Kemudian, kata Ramlianto, literasi. Guru sebagai pendidik bisa mengajak dan mendorong siswa untuk calisline (baca tulis online) soal kepariwisataan. "Coba ajak siswa menulis karangan soal pariwisata di sekitar mereka. Tulisan apa aja soal obyek-obyek wisata di medsos. Tulisan itu, entah karangan, puisi, foto dan sebagainya tentang obyek-obyek wisata bisa langsung dipublikasikan ke tulisan online dan medsos," kata Ramli.

Guru juga bisa mensosialisasikan obyek-obyek wisata yang dikunjunginya kepada siswa, dan komunitas mereka. Entah komunitas PKK, pengajian, medsos dan lain-lain.

"Jadi bentuklah komunitas yang memang bermanfaat di grup wa dan medsos. Jangan buat komunitas yang mengada-ada ga penting," kata Ramli..

Selain itu, guru juga bisa memberikan wawasan ke siswa tentang bisnis pariwisata yang menjanjikan. "Dari data tahun 2016, dari 707600 tenaga pariwisata yang dibutuhkan baru tersedot 82 171. Jadi masih kurang 625,425. Ini peluang yang sangat besar untuk diisi," kata Ramli.

Sementara Kasi Pemberdayaan dan Tata Kelola Destinasi Dinas Pariwisata Jawa Timur, Sai'in mengatakan peran guru tak hanya di kelas tapi juga pengajar di luar kelas. "Peran guru sangat penting bagi generasi milenial karena mereka ini yang menangani generasi milenial saat ini. Generasi milenial butuh penanaman akan cinta negeri. Kita tanamkan mereka untuk mencintai alam, budaya dan destinasi pariwisata Indonesia yang akhirnya mencintai negeri sendiri," ujar Sai'in.

Sai'in mengatakan Jawa Timur sendiri memiiliki 808 destinasi wisata. Unsur budaya yang terbanyak yakni 42,6% termasuk desa wisata. "Budaya ini termasuk kerajinan, cara bercocok tanam dan desa wisata," kata Sai'in. Untuk alam, kata Sai'in 32,8% dan buatan 24,6%.

Di sisi lain Deputi Bidang Industri dan Kelembagaan Kemenpar, Ni Wayan Giri Adnyani secara terpisah mengatakan, lebih dari enam dekade pariwisata menjadi sektor tercepat dalam aktivitas ekonomi dunia. Namun demikian, membangun sektor pariwisata tidak bisa dilakukan hanya oleh Kemenpar saja. Dalam pengembangan SDM Kepariwisataan misalnya, dibutuhkan juga kolaborasi dan koordinasi atas segala unsur. Meliputi akademisi, pelaku bisnis, pemerintah pusat dan daerah, serta komunitas pariwisata dan media.

"Program ini kami gelar dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan wawasan SDM pariwisata. Khususnya yang ada di kawasan-kawasan potensial seperti Surabaya. Dari kegiatan ini, kami berharap akan muncul kader-kader pariwisata yang bisa berpartisipasi dalam mengembangkan wisata berkelanjutan," ujarnya.

Giri Adnyani menambahkan, pariwisata seringkali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi atau penghasil devisa. Padahal, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas. Antara lain sebagai alat persatuan dan kesatuan bangsa, penghapusan kemiskinan (poverty alleviation), dan pembangunan berkesinambungan (sustainable development).

"Pariwisata juga terbukti mampu meningkatkan ekonomi dan perkembangan industri. Karenanya, kita dorong pariwisata melalui penguatan SDM ini," imbuhnya.

Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antarlembaga Kemenpar Wisnu Bawa Tarunajaya menyatakan, peran SDM merupakan faktor yang sangat strategis, khususnya pada sektor pariwisata yang karakteristik usahanya lebih banyak bersifat jasa.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun memberikan apresiasi atas keterlibatan para guru. Sebab, informasi yang mereka terima bisa langsung disampaikan ke para siswa.

"Sampaikan jika pariwisata adalah masa depan bangsa. Pariwisata adalah core economy yang akan menjadi penyumbang devisa nomor satu di Indonesia. Kita membutuhkan SDM-SDM andal untuk menanganinya. Dan kita membutuhkan guru untuk memberikan informasi itu," kata Arief.