Kamis, 28 Maret 2019

thumbnail

Memakai Behel Tak Timbulkan Dampak Psikologis pada Diri Seseorang


Salah satu hal yang kini dianggap sebagai asesoris bagi banyak anak muda adalah behel atau braket di gigi. Saat ini, banyak yang menggunakannya untuk alasan penampilan semata dan tidak didorong alasan kesehatan.

Memakai behel dianggap bisa membuat seseorang lebih percaya diri dan bahagia. Namun sebuah penelitian terbaru menepis anggapan yang banyak muncul ini.

Dilansir dari The Health Site, sebuah penelitian menyebut bahwa baik memakai behel atau tidak, seseorang tetap memiliki tingkat percaya diri dan kebahagiaan yang sama. Temuan ini diperoleh dari penelitian yang diterbitkan di jurnal Orthodontics and Craniofacial Research berdasar studi yang dilakukan terhadap 448 partisipan di Australia Selatan.

Pada awal penelitian ini yaitu sekitar 1988 dan 1989, para partisipan memiliki usia 13 tahun. Pada usia 30 di tahun 2005 dan 2006, sepertiga dari mereka mendapat perawatan ortodontis.

"Hasil penelitian ini mempelajari apakah menggunakan behel memiliki efek terhadap kegembiraan dan psikologis pada kehidupan. Terdapat pola dari nilai yang lebih tinggi secara psikososial pada orang-orang yang tidak mengalami perawatan ortodontis yang berarti bahwa mereka yang tak berbehel cenderung lebih optimis dibanding yang memiliki behel," ungkap Esma Dogramaci, profesor dari University of Adelaide.

"Mereka yang tidak dibehel memiliki masalah gigi tak beraturan yang sama seperti mereka yang dibehel, beragam mulai dari yang biasa hingga sangat parah," sambungnya.

Penelitian ini melihat empat aspek psikososial berupa seberapa baik seseorang mengatasi masalah lingkungan baru atau berbeda, seberapa besar pikiran mereka untuk merawat kesehatan diri sendiri, kepercayaan mereka tentang adanya dukungan dari lingkungan sekitar, serta tingkat optimisme tersebut.

"Indikator ini dipilih karena mereka penting untuk fungsi psikososial dan relevan dengan perilaku kesehatan dan hasil kesehatan. Dasar dari pertanyaan dalam penelitian ini merupakan dampak dari penggunaan behel pada seseorang terhadap percaya diri dan kebahagiaan di masa mendatang," jelas Dogramaci.

Kamis, 21 Maret 2019

thumbnail

Miliki Tubuh Bugar dan Sehat, Ini Penyebab Atlet Juga Bisa mengidap Kanker


Kondisi tubuh dan kesehatan yang bugar tidak bisa menjadi acuan bahwa seseorang bakal terhindar dari kanker. Beberapa contohnya adalah atlet bulutangkis Lee Chong Wei serta Agung Hercules yang terkenal memiliki tubuh bugar dan tegap.

"Kanker tidak pernah memilih," kata dokter Marlinda Adham, SpTHT-KL(K) PhD.

"Siapapun bisa terkena kanker walaupun hidup dan makanan sehat, tidak ada genetik kanker di keluarga, tidak merokok, atau alkohol, apalagi seorang atlet kemungkinan besar hidup sehat tapi juga kehidupan atlet penuh latihan berat kadang kondisi tidak selalu prima, jadi diperlukan kesadaran untuk mengetahui batas kemampuan diri," tutur Marlinda.

Berbicara mengenai faktor risiko yang menyebabkan seseorang terkena kanker hidung, Marlinda mengatakan, bahwa sangatlah beragam.

"Mulai dari genetik, virus, polusi, paparan karsinogenik yang terus menerus dan dalam waktu lama seperti paparan debu, bahan kimiawi, debu kayu, infeksi saluran napas yang berulang, dan daya tahan tubuh yang kurang," kata dokter yang praktik di RSUPN Ciptomangunkusumo Jakarta ini.

Mengenai gejala kanker hidung, hal tersebut sangat tergantung pada lokasi tumor. Biasanya hidung tersumbat pada satu atau dia sisi. Lalu, lendir bercampur darah, perdarahan mulai dari yang sedikit sampai yang banyak jumlahnya. Kemudian pasien mengeluhkan sakit kepala dan telinga tertutup.

"Bila meluas ke atas ada gangguan mata, ke bawah gigi goyah, langit-langit terinfiltrasi tumor," katanya.

Kamis, 14 Maret 2019

thumbnail

Sering Dianggap Sama, Ini Perbedaan Antara Vegetarian dan Vegan


Gaya hidup dan konsumsi yang tidak mengonsumsi daging merupakan salah satu yang tengah meningkat saat ini. Popularitas dari gaya hidup ini disebabkan karena sejumlah manfaat yang bisa diperoleh dari kebiasaan ini.

Terdapat dua istilah yang umum digunakan untuk menyebut gaya hidup ini yaitu vegan dan vegetarian. Sering kali banyak orang salah mengira dan menyangka bahwa dua hal ini sama. Namun sesungguhnya kedua hal ini sangat berbeda.

Kedua hal ini memang memiliki kesamaan namun juga terdapat perbedaan yang cukup menonjol dan bisa dikenali. Satu hal yang sama dari dua hal ini adalah tidak mengonsumsi daging.

Dilansir dari Medical Daily, vegetarian merupakan seseorang yang menghindari konsumsi produk yang dihasilkan dari hewan yang dibunuh. Hal ini berarti seseorang vegetarian tidak mengonsumsi daging baik dari sapi, sapi, babi, ayam, bebek, dan lain sebagainya. Selain itu mereka juga tidak mengonsumsi ikan, kerang, serangga atau bahkan kaldu dan lemak dari hewan.

Dengan kata lain, seorang vegetarian tidak mengonsumsi daging binatang sama sekali. Mereka hanya mengonsumsi buah-buahan, kacang-kacangan, sayur, biji-bijian, serta produk berbasis tanaman lain.

Di sisi lain, vegan diartikan sebagai gaya hidup yang sebisa mungkin tidak mengonsumsi makanan yang dihasilkan dari tindakan-tindakan pada hewan. Bukan hanya pada makanan saja, mereka juga menerapkan pandangan ini pada pakaian dan berbagai hal ini.

Pada makanan, selain menghindari konsumsi daging, vegan tidak mengonsumsi telur dan produk olahan lain yang berasal dari hewan. Pada beberapa vegan yang benar-benar ketat, mereka juga menghindari berbagai produk seperti kulit, wol, dan bahkan madu.

Baik vegan dan vegetarian merupakan pola makan yang berbasis tumbuhan sehingga memiliki manfaat kesehatan yang sama. Pola makan ini bisa menurunkan risiko diabetes, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan tingkat kolesterol tinggi.

Kebiasaan makan ini juga membuat pengaturan konsumsi gula seseorang dapat terkendali. Selain itu tingkat stres oksidatif juga menurun yang semuanya merupakan efek positif dari hal ini.

Walau menawarkan sejumlah manfaat luar biasa, terdapat risiko yang dapat muncul dari pola makan ini. Karena hanya mengonsumsi sayur-sayuran, tubuh tidak bisa mendapat vitamin B-12 secara alami yang dibutuhkan untuk menyokong sistem saraf dan kardiovaskular.

Kamis, 07 Maret 2019

thumbnail

Ibu Anak Tiga Miliki Jam Tidur yang Lebih Sebentar Dibanding Ibu Anak Lima, Kok Bisa?


Punya banyak anak bukan hanya berarti banyak rejeki saja. Memiliki banyak anak ini juga bisa membuat jam tidur terutama pada ibu menjadi semakin sedikit.

Sebuah penelitian bahkan menghitung jumlah jam tidur yang kamu dapat tergantung jumlah anak yang dimiliki. Dilansir dari Her, sebuah penelitian yang dilakukan menyebut bahwa ibu dengan tiga anak memiliki jam tidur yang lebih sebentar dibanding lainnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan Amerisleep menemukan hasil bahwa ibu dengan tiga anak memiliki jam tidur paling sedikit dibanding lainnya. Mengejutkannya, ibu dengan lima anak ternyata memiliki jam tidur yang lebih banyak dibanding lainnya.

Temuan ini didapat berdasar survei kepada 31.621 partisipan selama tahun 2015-2017. Berdasar survei tersebut, diketahui bahwa ibu dengan 3 anak rata-rata tidur selama 8,8 jam di malam hari sedangkan ibu dengan 5 anak rata-rata tidur selama 9 jam.

Jumlah jam tidur yang diperoleh ini tentu saja sangat mengejutkan karena lebih dari delapan jam.

"Ketika orangtua memiliki lima anak, mereka mengetahui cara untuk memaksimalkan tidur walau tuntutan kehidupan yang semakin sibuk, sedangkan ibu dengan tiga anak biasanya merasa terlalu banyak anak untuk pertama kali sehingga kehilangan kemampuan untuk tidur dalam cukup lama," jelas Nicole Cannon, konsultan tidur anak dan balita.

Walau bertambahnya anak sering menjadi masalah bagi orangtua untuk memperoleh jam tidur layak, seiring waktu mereka akan terbiasa. Bahkan ketika jumlah anak terus bertambah, mereka akan semakin terbiasa dengan banyaknya anak ini.

Walau begitu, bertambahnya jam tidur ini juga bisa berarti jumlah jam yang mereka habiskan untuk membenahi rumah jadi berkurang. Namun bisa jadi mereka tetap menghabiskan waktu yang tepat dalam mengurus rumah sembari mengistirahatkan diri.