Kamis, 02 Mei 2019

thumbnail

Puasa Ayyamul Bidh: Keutamaan, Waktu Mengerjakan, dan Niatnya



Bulan Syawal sudah memasuki pertengahan. Umat Islam disarankan untuk menjalankan ibadah sunnah berupa puasa Syawal. Namun sebenarnya bukan puasa Syawal saja ibadah sunnah yang bisa dikerjakan bulan ini. Ada puasa ayyamul bidh yang juga memiliki keutamaan tersendiri.

Sebenarnya apakah itu puasa ayyamul bidh? Kapan waktu yang tepat untuk mengerjakannya dan apakah puasa ini bisa dikerjakan bersamaan dengan ibadah puasa sunnah yang lain? Berikut ini kami tampilkan penjelasan lengkapnya.

Pengertian Puasa Ayyamul Bidh

Ayyamul bidh bisa diartikan 'hari-hari putih'. Karena itulah ibadah sunnah yang satu ini juga dikenal dengan nama puasa putih. Harap dibedakan dengan puasa mutih yang dijalankan sebagai bagian dari tradisi di Jawa.

Puasa ayyamul bidh dijalankan selama tiga hari, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Qamariyyah dalam kalender Hijriah. Walaupun begitu, puasa ayyamul bidh memiliki keutamaan yang lebih besar jika dilakukan di bulan-bulan tertentu seperti Syawal yang disebut bulan baik.

Keutamaan Puasa Ayyamul Bidh

Menjalankan ibadah puasa ayyamul bidh selama tiga hari akan mendapatkan ganjaran pahala yang sama dengan puasa selama sebulan. Jika dilakukan setiap bulan, maka dianggap sama dengan menjalankan ibadah puasa selama setahun.

"Sungguh, cukup bagimu berpuasa selama tiga hari dalam setiap bulan, sebab kamu akan menerima sepuluh kali lipat pada setiap kebaikan yang Kaulakukan. Karena itu, maka puasa ayyamul bidh sama dengan berpuasa setahun penuh."

(HR Bukhari-Muslim)

Asal-Usul Ibadah Puasa Ayyamul Bidh

Kenapa dinamai ayyamul bidh? Menurut keterangan di dalam kitab Umdatul Qari'Syarhu Shahihil Bukhari, sejarah ibadah puasa ayyamul bidh berkaitan dengan kisah Nabi Adam yang diturunkan ke bumi oleh Allah SWT.

"Sebab dinamai 'ayyamul bidh' adalah riwayat Ibnu Abbas RA, dinamai ayyamul bidh karena ketika Nabi Adam AS diturunkan ke muka bumi, matahari membakarknya sehingga tubuhnya menjadi hitam. Allah SWT kemudian mewahyukan kepadanya untuk berpuasa pada ayyamul bidh (hari-hari putih); 'Berpuasalah engkau pada hari-hari putih (ayyamul bidh)'. Lantas Nabi Adam AS pun melakukan puasa pada hari pertama, maka sepertiga anggota tubuhnya menjadi putih. Ketika beliau melakukan puasa pada hari kedua, sepertiga anggota yang lain menjadi putih. Dan pada hari ketiga, sisa sepertiga anggota badannya yang lain menjadi putih."

Ada juga riwayat lain yang menjelaskan kemungkinan asal-usul ibadah puasa ayyamul bidh. Berikut ini penjelasannya.

"Pendapat lain menyatakan, hari itu dinamai ayyamul bidh karena malam-malam tersebut terang benderang oleh rembulan dan rembulan selalu menampakkan wajahnya mulai matahari tenggelam sampai terbit kembali di bumi. Karenanya malam dan siang pada saat itu menjadi putih (terang)."

Badruddin Al-'Aini Al-Hanafi, 'Umdatul Qari' Syarhu Shahihil Bukhari)

Niat Puasa Ayyamul Bidh di Bulan Syawal

Jika Anda ingin melaksanakan puasa ayyamul bidh di bulan Syawal, bacalah niat berikut terlebih dahulu.

"Nawaitu shouma ayyami bidh sunnatal lillahi ta'ala."

Artinya:
" Saya niat puasa ayyamul bidh sunah karena Allah Ta'ala."

Hukum Menggabung Puasa Syawal dengan Puasa Ayyamul Bidh

Puasa ayyamul bidh adalah ibadah yang sifatnya ghayru maqshudah bidzatiha atau tidak diniatkan secara langsung. Karena itulah, Anda diperbolehkan menggabung niat untuk menjalankan kedua ibadah sunnah ini. Bila seseorang menjalankan puasa selama tiga hari dalam satu bulan, kapan pun harinya dan apa pun jenis puasa yang dilakukan, maka orang tersebut sudah mendapatkan keutamaan puasa ayyamul bidh.

:

"Jika seseorang berpuasa enam hari di bulan Syawal, gugur darinya tuntutan puasa ayyamul bidh. Baik ia puasa Syawal ketika al-bidh (ketika bulan purnama sempurna), sebelumnya atau setelahnya, karena ia telah berpuasa tiga hari dalam satu bulan. Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: 'Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa berpuasa tiga hari setiap bulan, tanpa peduli apakah itu awal bulan atau tengah bulan atau akhirnya'. Ini sejenis dengan gugurnya tuntutan shalat tahiyatul masjid dengan mengerjakan salat rawatib jika seseorang masuk masjid."

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Demikian penjelasan mengenai puasa ayyamul bidh atau puasa hari-hari putih. Semoga bermanfaat bagi Anda.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments